Apa yang akan kamu lakukan jika mendapatkan uang 1 juta dollar??
Kalau saya, apa ya, yang
kira-kira akan saya lakukan? Mungkin saya akan membelanjakannya, membeli
barang-barang yang selama ini tidak bisa saya beli. Mungkin juga akan
menginvestasikannya, bisa beli property, emas, berlian, atau mungkin bangun
usaha, main salah. Mungkin juga saya akan kebingungan setengah mati
sampai-sampai tidak tahu harus bagaimana dengan uang sebanyak itu, karena
seumur hidup saya, saya belum pernah melihat uang sebanyak itu. Membayangkan
saja tidak pernah.
Seperti yang terjadi pada joey
coyle, tokoh dalam Joey, Si Frustasi Yang Beruntung. Joey yang pengangguran dan
pencandu berat, tanpa sengaja menemukan uang 1 juta dollar tergetelak begitu
saja di jalanan. Ternyata uang itu adalah milik salah satu perusahaan keuangan
terkenal yang terjatuh. Joey yang seumur hidup belum pernah melihat uang
sebanyak itu, langsung ngiler. Joey menjadi gila, bingung, akan diapakan uang
sebanyak itu. Joey tentu saja tidak ingin mengembalikan uang itu dan hanya
mendapatkan imbalan kecil, yang tak ada artinya bilang dibandingkan dengan uang
1 juta dollar yang kini ada digenggamannya.
Malang, dasar sifat Joey lugu,
polos dan royal. Joey dengan mudahnya malah memberitahukan ke semua orang yang
dijumpainya kalau ialah penemu uang yang sedang dicari-cari polisi itu. Joey
bahkan dengan suka rela, memberikan uang dan mentraktirsetiap orang yang dijumpainya. Walhasil, Joey
dengan mudah diringkus polisi. Joey pundi siding dengan tuduhan pencurian, karena aturan Negara menyebutkan
bila seseorang menemukan uang di atas 250.000 dollar dan tidak
mengembalikannya, maka ia dikatakan mencuri. Tak dinyana, bukannya diputuskan
bersalah dan dihukum, Joey, malah dinobatkan sebagai pahlawan masyarat?Seketika, Joey menjadi terkenal dan
diidolakan? What?! How come?? Kalau mau tau lebih lengkapnya, baca aja buku
Joey, Si Frustasi Yang Beruntung-nya Mark Bowden terbitan ufukpress. Walaupun
gak terlalu menggigit, tapi lumayanlah. Ceritanya real dan unik.
Ada-ada
saja modus operandi para pencopet. Berkat TV dan segala kemudahan akses
informasi, semakin cerdas dan beragam pula caranya. Ini pengalaman teman saya
yang pernah dicopet di angkot. Modus operandinya tradisional, tidak menggunakan
alat-alat canggih seperti di film-film hollywood. Tapi mengandalkan kecepatan tangan, kerja sama
tim dan psikologi pengalihan (bah bahasanya, saya mengarang istilahnya untuk
yang satu ini-red). Baiklah, saya ceritakan saja kronologisnya.
ADEGAN 1
Satu
hari, seorang teman saya, sedang berada di sebuah angkot, menuju rumahnya. Kebetulan
di angkot itu hanya adan dua orang penumpang, satu teman saya itu yang duduk di
belakang. Satu lagi duduk di depan, di sevelah supir.
Tiba-tiba
empat orang pria berbarengan menghentikan angkot itu. Salah satu pria, sebut
saja PRIA 1 bertanya, “ Bang, ke A?” Supir angkot menjawab, “Bukan, Bang...ini
ke A,. A sebrang, Bang.” Tapi bukannya naik angkot yang berlawanan arah,
keempat pria itu malah menaiki angkot itu. Jelas saja teman saya bingung. Dalam
hati bertanya-tanya dan merasa aneh sendiri.
Keempat
pria itu duduk mengapit teman saya. Seorang di sebelah kanan, seorang lagi di
sebelah kiri, dua orang lainnya di depannya. Teman saya sempat merasa aneh dengan
hal itu. Saat itu angkot lapang, kenapa mereka malah memilih berdesak-desakan
dengan teman saya. Teman saya sempat curiga. Tapi teman saya hanya diam sambil
mengapit tasnya erat-erat.
Singkat
cerita, keempat pria itu mulai bertingkah aneh-aneh. Seorang yang di depan
teman saya, merokok dan dengan sengaja menyebarkan asap rokoknya kearah teman
saya. Kontan teman saya menutup hidung karena tak tahan dengan asap rokok. Seorang teman pria itu lalu menyuruh teman
saya membuka kaca jendela agar asap rokoknya keluar. Teman saya yang memang
tidak tahan asap rokok pun segera membuka jendela. Setelah itu, semua kembali
seperti tak ada apa-apa. Para pria itu bersikap seolah memang tengah menuju ke
satu tempat dan sibuk memperhatikan jalanan.
Tak
lama teman saya sampai di gang dekat rumahnya. Teman saya pun segera turun dan
membayar ongkos dengan uang yang telah disiapkannya. Setelah itu teman saya
berjalan ke arah rumahnya, sementara angkot melaju pergi bersama keempat pria
itu. Sambil berjalan, teman saya merogoh tasnya, hendak mengambil HP-nya. Tapi
ternyata HP-nya sudah tidak ada. Padahal teman saya yakin betul kalau saat ia
naik angkot tadi HP-nya masih ada di dalam tasnya.
Teman
saya lalu buru-buru pulang dan menelepon HP-nya. Ternyata nomernya masih tersambung.
Teman saya menanyakan perihal HP-nya. Tapi jawaban yang terimanya malah, “Iya,
sayang, HP kamu ada sama ogut. Makanya lain kali hati-hati dong kalau di
angkot, jangan meleng.” DENG. Kontan teman saya shock dan gondok setengah mati.
ADEGAN 2
Teman
saya yang lain, punya pengalaman lebih menarik. Saat di perjalanan pulang dari
arah taman mini, tiba-tiba naik seorang pria ke angkot yang teman saya naiki. Seoarng dari mereka langsung marah-marah pada
teman saya. Bapak itu menuduh teman saya itu pastilah orang yang sudah membuat
adiknya patah hati sampai masuk rumah sakit. Teman saya yang tidak mengerti
apa-apa jelas bingung. Tapi orang itu terus mencecar teman saya sampai teman
saya mati kutu.
Orang
itu bilang kalau ia yakin betul kalau teman saya itu yang sudah membuat adiknya
nekat mencoba bunuh diri karena patah hati dengan teman saya. Teman saya lagi-lagi bilang kalau orang itu
sudah salah orang. Orang itu tidak percaya dan meminta teman saya mengeluarkan
KTP-nya.
Bodohnya
teman saya percaya saya dan mengeluarkan dompetnya. Orang itu langsung
mengambil dompet yang baru saja dikeluarkan teman saya dan HP yang sejak tadi
dipegangnya. Setelah mengambil semua itu, orang itu lalu turun dari angkot dan
menyuruh supir angkot menjalankan angkot.
Di dalam
angkot, teman saya hanya bisa bengong. Baru sadar kalau ia sudah dirampok
dompet dan HP-nya.
Semua
ini benar terjadi dan menimpa dua orang teman saya. Yang bisa diambil dari
pengalaman tersebut, HARUS CERDAS MENGANTISIPASI SEGALA JENIS SKENARIO YANG
MUNGKIN ANDA JUMPAI DI ANGKOT. BE A GOOD ACTOR YANG ADAPTIF DENGAN SEGALA
SKENARIO CERITA. ADA BAIKNYA KONSULTASI DENGAN PENULIS SKRIP ATAU KALAU PERLU
MEMBUAT SKENARIO SENDIRI. HEHEHE...
tahun baru ini saya awali dengan kelimbungan...bagaimana bisa?? baiklah, saya ceritakan saja dari awal...
di awal penghujung tahun ini, saya dan lelaki saya berniat mengabadikan kemergapan semarak menyambut tahun baru. peralatan tempur sudah kami siapkan...kamera, kamera dan kamera...
kami pun bersiap berangkat mencari tempat keramaian...sial, helm kami hilang...kami pun terpaksa mencari pinjaman...awalnya, lelaki saya mencari pinjaman helm ke tempat temennya...hasilnya helm tidak dapat, malah tas ketinggalan...terpaksa kami balik lagi untuk mengambil tas...tas sudah kembali...giliran kamera yang ketinggalan...tak punya pilihan, kami pun balik lagi...untung kali ini tak ada yang ketinggalan lagi...
lama keliling-liling...kami merasa lapar...kami pun memutuskan makan di d-cost atrium...sialnya, saat memasuki areal parkiran, lelaki saya, salah belok...walhasil, kami malah keluar dari areal atrium...
karena kelaparan berat, kami pun berkeliling mencari jajanan jalanan. lama berkeliling, tau-tau kami sampai di muara angke...tapi sayang, kami nggak bisa masuk area...karena buanjir...kami pun terpaksa balik arah...malang, bukannya nemu makanan, malah terjebak macet...
Saya baru
saja menamatkan buku Ken Arok karya Gamal Komandoko. Buku ini bercerita tentang
kedigdayaan Ken Arok sebagai anak biasa, yang dibuang ibunya karena sakit hatinya
pada kekasihnya yang tidak mengakui anak itu, menjadi penguasa Tumapel, wilayah
jajahan Kediri yang akhirnya menumbangkan kekuasaan Kediri dan menjadi
satu-satunya penguasa di Tumapel dan Kediri.
Elok buku
ini memaparkan kisah Arok, anak titisan dewa yang menurut buku ini, dari
mulutnya keluar cahaya yang mampu membius banyak orang hingga menghantur sembah
padanya. Saya secara pribadi berterima kasih kepada pengarang yang telah
memberi saya pengetahuan tentang sejarah pertumpahan darah di Tumapel. Pengarang
cukup lihai memadu kata-kata yang dapat dicerna dan membuai pembaca. Pilihan
katanya sungguh ringkas dan tepat makna.
Namun ada
yang menggelitik hati saya ketika membaca buku ini. Entah mengapa, saya merasa
buku ini seperti sinetron saja. Deskripsi, dialog dan pemaparan cerita
sangatlah mirip dengan sinetron. Saya jadi bertanya-tanya, apa si penulis juga
penulis skenario sinetron atau korban sinetron atau apa? Mungkin ini yang
dikatakan teman saya, Ms. L dan Pidi sebagai kutukan penulis skenario. Huahahaha.
Saya jadi geli sendiri. Tapi sungguh, membaca buku ini dan membayangkan isinya
seolah tengah menyaksikan sebuah sinetron. Apalagi buku ini terlalu mudah
ditebak isinya, hingga hanya dengan membaca sekilas-sekilas, kita sudah dapat
mengerti ceritanya. Saya sendiri bahkan bacanya melompat-lompat dan tetap
mengerti perkembangan cerita. Sungguh mirip sinetron bukan. Tak perlu menonton
keseluruhan, tetap mengerti cerita.
Tapi
terlepas dari itu, buku ini cukup layak menjadi bahan bacaan. Setidaknya sedikit
banyak cakrawala kita tentang babab tanah jawi bertambah dengan membaca buku
ini.
Hari ini saya akan
berkencan dengan Ms. L. Yap, tepat di hari sabtu, malam minggu ini.
Wah...wah...seperti apa, ya kira-kira kencan saya dengan Ms. L nanti? Jam
setengah 10 saya berangkat dari rumah. Saya janji bertemu Ms. L di pasar rebo
jam 10 teng. Jam 10.14 saya sampai. Ms. L belum kelihatan batang hidungnya.
Saya telpon, tak diangkat. Saya mulai berang. Saya telpon terus sampai akhirnya
diangkat.
Tak lama Ms. L nongol juga.
Kami langsung naik bus yang sedang ngetem. Tak lama kami sampai di JCC. Ya hari
ini, memang kami berencana memanjakan mata dan kehausan kami dengan
melihat-lihat pameran kompi dan buku di JCC.
Di JCC kami disambut jutaan
manusia dan barang-barang. Wuih, pusing saya dibuatnya. Walhasil saya tak
menikmati acara kencan hari ini. Saya memang tidak tahan berada di tengah
keramaian. Ditambah lagi dengan membawa-bawa laptop yang beratnya minta ampun,
saya jadi semakin tidak menikmati acara kencan kali ini. Tapi dari jalan-jalan
tidak niat itu, saya dapat juga tiga buku: Anna Karenina Leo Toilstoi yang
pertama (yang kedua saya sudah punya), Ken Arok dan The Pillar of the
Earth.Di JCC kami bertemu dua pasangan,
Ipied dan Ibenk, satu lagi saya sungkan menyebutkannya (entah mereka pasangan
atau bukan, tapi sepertinya iya. Wong sangat terlihat dari bahasa tubuh dan
tatap mereka. Awas saja kalau tidak mengaku).
Dari JCC kencan kami
lanjutkan ke Plangi karena perut kami sudah ngambek minta diisi. Kami memilih
tempat di Solaria. Saat tengah asik-asiknya makan dan bersenda-gurau tiba-tiba
HP saya berdering. Panggilan pekerjaan. Huh, sebal juga. Tapi mau bagaimana
lagi, inilah resiko tukang ketik panggilan. Kalau pekerjaan sudah datang, ya
harus dikerjakan, tidak perduli waktu dan kondisi, padahal saya sedang
bersenang-senang dengan teman-teman kencan saya.
Karena panggilan pekerjaan
itu, saya dan Ms. L terpaksa memisahkan diri dari dua pasangan itu dan mencari
tempat yang nyaman untuk segera menunaikan panggilan menjadi tukang ketik.
Sialnya, di tengah perjalanan hujan turun dengan begitu tiba-tiba dan deras.
Saya dan MS. L harus berlarian menghindari hujan. Kami langsung menuju halte
busway untuk menghemat waktu. Kami pikir lebib baik berteduh dalam bus daripada
di tempat antah berantah. Siapa tahu, begitu sampai tempat tujuan hujan sudah
reda. Tapi ada kejadian lucu. Ms. L begitu bersemangat menaiki tranjak sampai
bleess..terpeleset. Saya iba sekaligus menahan tawa melihat itu. Tapi karena
Ms. L teman saya, tawa saya saya redam sebisa mungkin. Ms. L pastilah marah
kalau saya tertawa terbahak-bahak. Tapi sungguh memang lucu kejadian itu.
Sampai saya menuliskan ini, saya masih tertawa mengingat kejadian itu.
Huahahahaha. Ms. L, makanya hati-hati. Jangan terlalu bersemangatlah.
Baik saya lanjutkan cerita
saya. Tak lama kami sampai di tempat tujuan, Utan Kayu, tempat kos saya. Sesampainya
di sana, tanpa babibu dan basa-basi, masih dengan tubuh letih karena
menggendong-gendong bayi kami (laptop kami) dan basah kuyup karena kehujanan, kami
langsung menyalakan laptop dan mengetik. Namanya juga tukang ketik. Yang harus
selalu kami lakukan dan dahulukan adalah mengetik...ngetik...ngetik...sampai
jari kami kapalan.
Bisa dikatakan ini adalah
hari sial saya. Bagaimana bukan hari sial kalau dalam sehari saya sampai
mencari helm tiga kali. Kehujanan pula.
Baiklah, saya ceritakan saja
kronologisnya selengkapnya.
Pagi hari sekitar pukul 10
pagi, saya keluar rumah dengan niat mulia. Bayangkan, saya ingin mengajar
adik-adik saya agar juga mumpuni menulis seperti saya. Halah, saya sudah mulai
menyombongkan diri. Tapi memang begitu adanya. Huahahahaha. Tidak, kita kembali
serius. Niat saya keluar rumah kali ini adalah untuk mengajar jurnalistik di
labskul rawamangun. Maka dengan niat tulus itulah saya berpamitan pada kedua
orang tua saya.
Di awal perjalanan saya sudah
diuji. Rasanya perjalanan saya kali ini terasa lebih lama dari biasanya.
Harusnya saya bisa sampai tempat tujuan sekitar jam 11an. Tapi ini, malah
hampir jam setengah satu baru sampai. Halah. Kok ngaret banyak sekali. Tapi tak
apa, yang penting saya sampai tempat tujuan.
Singkat cerita. Saya sampai
di labskul dan mulai mengajar bersama lelaki saya. Selesai mengajar kami harus
bergegas menuju tempat mengajar selanjutnya, PB Sudirman di bilangan Cijantung.
Saat hendak melajukan motor, lelaki saya baru ingat kalau dia tidak bawa helm
untuk saya. Halah, ya kok baru ingat sekarang. Kalau bilang dari tadi kan saya
bisa antisipasi. Ada tiga jalan penyelesaian yang bisa saya ambil. Pertama saya
bawa helm dari rumah (tapi ini akan menjadi pilihan terakhir saya, karena saya
malas bawa-bawa laptop ditambah helm. Berat.). Yang kedua, saya bisa membeli helm
di jalan. Yang ketiga, saya tidak jadi berangkat ke labskul, biar dia saja yang
mengajar. Saya konsentrasi dengan yang di Sudirman.
Ah, tapi nasi sudah jadi
bubur. Apa mau dikata. Percuma menyesali. Yang harus kami lakukan sekarang
adalah mencari jalan keluar masalah ini. Tak guna debat panjang. Just do. Kami
pun akhirnya terpaksa keliling kampus untuk mencari pinjaman helm. Hasilnya
nihil. Kami lalu memutuskan mencari helm di sepanjang perjalanan sambil berdoa
semoga tak ditilang pak polisi yang suka sekali mencari-cari kesalahan para
pengendara di jalan raya.
Tak lama kami menemukan
tukang helm di pramuka. Setelah debat panjang dengan si penjual helm, akhirnya
kami mendapatkan helm dengan harga yang kami sepakati. Helm sudah di tangan, di
kepala ding. Hati kami pun menjadi tenang. Perjalananpun kami lanjutkan. Di
tengah perjalanan, saat mencapai daerah condet, tiba-tiba hujan lebat
mengguyur. Orang-orang kalang-kabut. Pengendara motor berebutan menepi dan
mencari tempat berteduh. Hanya mobil dan metromini yang dengan santai terus
melaju. Hah betapa beruntungnya mereka. Sementara kami basah kuyup. Tidak
mungkin rasanya kami mengadu kekuatan dengan sang hujan. Kami pun memutuskan
menepi. Lama hujan tak kunjung reda. Dingin. Perut kami lapar. Kami memang belum
sempat makan siang.
Hujan masih rintik-rintik.
Rasanya akan lama berhenti. Kami mengejar waktu. Kami takut adik-adik kami
jengah menunggu kami dan memutuskan pulang. Akhirnya kami nekat menerobos
hujan. Kami berjalan sehati-hati mungkin agar tak terkena cipratan air hujan
yang menggenang. Tapi sial, pengendara motor dan mobil yang tak punya
toleransi, ngebut seenak udelnya dan menciprati kami. Berkali-kali, kami
ketiban sial itu. Walhasil kami basah kuyup. Catat, bukan karena hujan tapi
karena cipratan air kotor ulah pada pengendara sialan itu. Tapi demi mengingat
wajah adik-adik kami yang resah menunggu kami, kami memutuskan meneruskan
perjuangan kami dan mencoba berbesar hati. Meski sebenarnya merutuk
sejadi-jadinya.
Akhirnya kami sampai di PB
Sudirman. Dan benar saja, adik-adik kami sudah banyak yang pulang. Hanya
segelintir yang bertahan. Itu pun karena jemputannya belum datang. Hah. Lengkap
sudah kesialan kami hari ini. Sudah basah kuyup, kotor, kelaparan, adik-adik
yang mau diajar sudah tak ada pula. Huh. Saya hanya bisa mengurut dada.
Untuk menghibur diri, kami
memutuskan menonton monolog di TIM. Perjalanan kali ini bisa dikatakan lancar,
sampai akhirnya helm saya terbang karena lelaki saya ingin memacu adrenalinnya
dengan menambah kecepatan laju motor. Kami pun terpaksa mencari helm lagi, demi
menghindari penilangan. Kalau ditilang bisa berabe, pasalnya pajak motor mati
tiga tahun. Sesampai di TIM, tak jua kami mendapatkan helm. Sempat terpikir
untuk mencuri helm dar motor yang terparkir. Tapi kami tak punya cukup
keberanian untuk melakukan itu.
Singkat kata, kami menonton
monolog. Tapi tidak bisa menikmatinya karena kami masih memikirkan helm, helm,
helm. Tapi pertunjukan monolog kali itu sungguh menghibur, terutama penampilan
putu wijaya. Salut buat bapak yang satu itu, yang benar-benar mengabdikan diri
untuk dunia teater, seni dan budaya bangsa. Malam itu, Putu Wijaya tampil
sangat memukau dan total. Tidak menyesal saya datang ke sini.
Selesai pentunjukan monolog,
kami pun kembali mencari helm. Kami bari berhasil menemukan helm di jatinegara.
Sejak saat itu helm itu saya pegang erat-erat. Saya tidak lagi memeluk lelaki
saya, tapi helm saya. Saya tidak mau kehilangan helm lagi. Sudah cukup hari ini
saya mencari helm. Helm yang kali ini saya temukan, tidak akan saya lepaskan
lagi.
kata teman itu, menurut sejarah evolusi, dahulunya manusia berevolusi dari bentuk yang paling sederhana, dari makhluk bersel satu lalu berevolusi menjadi ikan, lalu berevolusi lagi menjadi kodok, kemudian berevolusi lagi menjadi burung dan seterusnya hingga pada puncak evolusi jadilah manusia.
tapi kemudian ia bertanya-tanya, apakah benar manusia adalah puncak dari evolusi atau akan ada lagikah bentuk yang merupakan jelmaan evolusi manusia?
kata teman itu lagi, evolusi makhluk hidup terjadi karena penyesuaian terhadap kondisi lingkungan. tapi yang terlihat sekarang, manusia yang memaksa lingkungan beradaptasi atau menyesuaikan diri dengan manusia. lagi-lagi teman itu kebingungan. lantas sebenernya apakah manusia diciptakan untuk alam atau sebaliknya, alam yang diciptakan untuk manusia.