<< February 2010 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Jul 24, 2009
Apa yang akan kamu lakukan jika mendapatkan uang 1 juta dollar??

Kalau saya, apa ya, yang kira-kira akan saya lakukan? Mungkin saya akan membelanjakannya, membeli barang-barang yang selama ini tidak bisa saya beli. Mungkin juga akan menginvestasikannya, bisa beli property, emas, berlian, atau mungkin bangun usaha, main salah. Mungkin juga saya akan kebingungan setengah mati sampai-sampai tidak tahu harus bagaimana dengan uang sebanyak itu, karena seumur hidup saya, saya belum pernah melihat uang sebanyak itu. Membayangkan saja tidak pernah.

 

Seperti yang terjadi pada joey coyle, tokoh dalam Joey, Si Frustasi Yang Beruntung. Joey yang pengangguran dan pencandu berat, tanpa sengaja menemukan uang 1 juta dollar tergetelak begitu saja di jalanan. Ternyata uang itu adalah milik salah satu perusahaan keuangan terkenal yang terjatuh. Joey yang seumur hidup belum pernah melihat uang sebanyak itu, langsung ngiler. Joey menjadi gila, bingung, akan diapakan uang sebanyak itu. Joey tentu saja tidak ingin mengembalikan uang itu dan hanya mendapatkan imbalan kecil, yang tak ada artinya bilang dibandingkan dengan uang 1 juta dollar yang kini ada digenggamannya.

 

Malang, dasar sifat Joey lugu, polos dan royal. Joey dengan mudahnya malah memberitahukan ke semua orang yang dijumpainya kalau ialah penemu uang yang sedang dicari-cari polisi itu. Joey bahkan dengan suka rela, memberikan uang dan mentraktir  setiap orang yang dijumpainya. Walhasil, Joey dengan mudah diringkus polisi. Joey pun  di siding dengan tuduhan pencurian, karena aturan Negara menyebutkan bila seseorang menemukan uang di atas 250.000 dollar dan tidak mengembalikannya, maka ia dikatakan mencuri. Tak dinyana, bukannya diputuskan bersalah dan dihukum, Joey, malah dinobatkan sebagai pahlawan masyarat?  Seketika, Joey menjadi terkenal dan diidolakan? What?! How come?? Kalau mau tau lebih lengkapnya, baca aja buku Joey, Si Frustasi Yang Beruntung-nya Mark Bowden terbitan ufukpress. Walaupun gak terlalu menggigit, tapi lumayanlah. Ceritanya real dan unik.


Posted at 12:25 am by piazola
Make a comment  

Jun 21, 2009
HATI-HATI COPET

Ada-ada saja modus operandi para pencopet. Berkat TV dan segala kemudahan akses informasi, semakin cerdas dan beragam pula caranya. Ini pengalaman teman saya yang pernah dicopet di angkot. Modus operandinya tradisional, tidak menggunakan alat-alat canggih seperti di film-film hollywood.  Tapi mengandalkan kecepatan tangan, kerja sama tim dan psikologi pengalihan (bah bahasanya, saya mengarang istilahnya untuk yang satu ini-red). Baiklah, saya ceritakan saja kronologisnya.

 

ADEGAN 1

 

Satu hari, seorang teman saya, sedang berada di sebuah angkot, menuju rumahnya. Kebetulan di angkot itu hanya adan dua orang penumpang, satu teman saya itu yang duduk di belakang. Satu lagi duduk di depan, di sevelah supir.

 

Tiba-tiba empat orang pria berbarengan menghentikan angkot itu. Salah satu pria, sebut saja PRIA 1 bertanya, “ Bang, ke A?” Supir angkot menjawab, “Bukan, Bang...ini ke A,. A sebrang, Bang.” Tapi bukannya naik angkot yang berlawanan arah, keempat pria itu malah menaiki angkot itu. Jelas saja teman saya bingung. Dalam hati bertanya-tanya dan merasa aneh sendiri.

 

Keempat pria itu duduk mengapit teman saya. Seorang di sebelah kanan, seorang lagi di sebelah kiri, dua orang lainnya di depannya. Teman saya sempat merasa aneh dengan hal itu. Saat itu angkot lapang, kenapa mereka malah memilih berdesak-desakan dengan teman saya. Teman saya sempat curiga. Tapi teman saya hanya diam sambil mengapit tasnya erat-erat.

 

Singkat cerita, keempat pria itu mulai bertingkah aneh-aneh. Seorang yang di depan teman saya, merokok dan dengan sengaja menyebarkan asap rokoknya kearah teman saya. Kontan teman saya menutup hidung karena tak tahan dengan asap rokok.  Seorang teman pria itu lalu menyuruh teman saya membuka kaca jendela agar asap rokoknya keluar. Teman saya yang memang tidak tahan asap rokok pun segera membuka jendela. Setelah itu, semua kembali seperti tak ada apa-apa. Para pria itu bersikap seolah memang tengah menuju ke satu tempat dan sibuk memperhatikan jalanan.

 

Tak lama teman saya sampai di gang dekat rumahnya. Teman saya pun segera turun dan membayar ongkos dengan uang yang telah disiapkannya. Setelah itu teman saya berjalan ke arah rumahnya, sementara angkot melaju pergi bersama keempat pria itu. Sambil berjalan, teman saya merogoh tasnya, hendak mengambil HP-nya. Tapi ternyata HP-nya sudah tidak ada. Padahal teman saya yakin betul kalau saat ia naik angkot tadi HP-nya masih ada di dalam tasnya.

 

Teman saya lalu buru-buru pulang dan menelepon HP-nya. Ternyata nomernya masih tersambung. Teman saya menanyakan perihal HP-nya. Tapi jawaban yang terimanya malah, “Iya, sayang, HP kamu ada sama ogut. Makanya lain kali hati-hati dong kalau di angkot, jangan meleng.” DENG. Kontan teman saya shock dan gondok setengah mati.

 

 

 

ADEGAN 2

 

Teman saya yang lain, punya pengalaman lebih menarik. Saat di perjalanan pulang dari arah taman mini, tiba-tiba naik seorang pria ke angkot yang teman saya naiki.  Seoarng dari mereka langsung marah-marah pada teman saya. Bapak itu menuduh teman saya itu pastilah orang yang sudah membuat adiknya patah hati sampai masuk rumah sakit. Teman saya yang tidak mengerti apa-apa jelas bingung. Tapi orang itu terus mencecar teman saya sampai teman saya mati kutu.

 

Orang itu bilang kalau ia yakin betul kalau teman saya itu yang sudah membuat adiknya nekat mencoba bunuh diri karena patah hati dengan teman saya.  Teman saya lagi-lagi bilang kalau orang itu sudah salah orang. Orang itu tidak percaya dan meminta teman saya mengeluarkan KTP-nya.

 

Bodohnya teman saya percaya saya dan mengeluarkan dompetnya. Orang itu langsung mengambil dompet yang baru saja dikeluarkan teman saya dan HP yang sejak tadi dipegangnya. Setelah mengambil semua itu, orang itu lalu turun dari angkot dan menyuruh supir angkot menjalankan angkot.

 

Di dalam angkot, teman saya hanya bisa bengong. Baru sadar kalau ia sudah dirampok dompet dan HP-nya.

 

 

 

Semua ini benar terjadi dan menimpa dua orang teman saya. Yang bisa diambil dari pengalaman tersebut, HARUS CERDAS MENGANTISIPASI SEGALA JENIS SKENARIO YANG MUNGKIN ANDA JUMPAI DI ANGKOT. BE A GOOD ACTOR YANG ADAPTIF DENGAN SEGALA SKENARIO CERITA. ADA BAIKNYA KONSULTASI DENGAN PENULIS SKRIP ATAU KALAU PERLU MEMBUAT SKENARIO SENDIRI. HEHEHE...


Posted at 08:23 am by piazola
Make a comment  

Jan 12, 2009
cerita awal tahun...

tahun baru ini saya awali dengan kelimbungan...bagaimana bisa?? baiklah, saya ceritakan saja dari awal...

di awal penghujung tahun ini, saya dan lelaki saya berniat mengabadikan kemergapan semarak menyambut tahun baru. peralatan tempur sudah kami siapkan...kamera, kamera dan kamera...

kami pun bersiap berangkat mencari tempat keramaian...sial, helm kami hilang...kami pun terpaksa mencari pinjaman...awalnya, lelaki saya mencari pinjaman helm ke tempat temennya...hasilnya helm tidak dapat, malah tas ketinggalan...terpaksa kami balik lagi untuk mengambil tas...tas sudah kembali...giliran kamera yang ketinggalan...tak punya pilihan, kami pun balik lagi...untung kali ini tak ada yang ketinggalan lagi...

lama keliling-liling...kami merasa lapar...kami pun memutuskan makan di d-cost atrium...sialnya, saat memasuki areal parkiran, lelaki saya, salah belok...walhasil, kami malah keluar dari areal atrium...

karena kelaparan berat, kami pun berkeliling mencari jajanan jalanan. lama berkeliling, tau-tau kami sampai di muara angke...tapi sayang, kami nggak bisa masuk area...karena buanjir...kami pun terpaksa balik arah...malang, bukannya nemu makanan, malah terjebak macet...

huh, sial banget...

sepertinya tahun ini akan jadi tahun yang berat.



Posted at 09:13 pm by piazola
Make a comment  

Nov 21, 2008
KEN AROK

    

KEN AROK

 

Saya baru saja menamatkan buku Ken Arok karya Gamal Komandoko. Buku ini bercerita tentang kedigdayaan Ken Arok sebagai anak biasa, yang dibuang ibunya karena sakit hatinya pada kekasihnya yang tidak mengakui anak itu, menjadi penguasa Tumapel, wilayah jajahan Kediri yang akhirnya menumbangkan kekuasaan Kediri dan menjadi satu-satunya penguasa di Tumapel dan Kediri.

 

Elok buku ini memaparkan kisah Arok, anak titisan dewa yang menurut buku ini, dari mulutnya keluar cahaya yang mampu membius banyak orang hingga menghantur sembah padanya. Saya secara pribadi berterima kasih kepada pengarang yang telah memberi saya pengetahuan tentang sejarah pertumpahan darah di Tumapel. Pengarang cukup lihai memadu kata-kata yang dapat dicerna dan membuai pembaca. Pilihan katanya sungguh ringkas dan tepat makna.

 

Namun ada yang menggelitik hati saya ketika membaca buku ini. Entah mengapa, saya merasa buku ini seperti sinetron saja. Deskripsi, dialog dan pemaparan cerita sangatlah mirip dengan sinetron. Saya jadi bertanya-tanya, apa si penulis juga penulis skenario sinetron atau korban sinetron atau apa? Mungkin ini yang dikatakan teman saya, Ms. L dan Pidi sebagai kutukan penulis skenario. Huahahaha. Saya jadi geli sendiri. Tapi sungguh, membaca buku ini dan membayangkan isinya seolah tengah menyaksikan sebuah sinetron. Apalagi buku ini terlalu mudah ditebak isinya, hingga hanya dengan membaca sekilas-sekilas, kita sudah dapat mengerti ceritanya. Saya sendiri bahkan bacanya melompat-lompat dan tetap mengerti perkembangan cerita. Sungguh mirip sinetron bukan. Tak perlu menonton keseluruhan, tetap mengerti cerita.

 

Tapi terlepas dari itu, buku ini cukup layak menjadi bahan bacaan. Setidaknya sedikit banyak cakrawala kita tentang babab tanah jawi bertambah dengan membaca buku ini.

 

Jumat, 21 November 2008

 


Posted at 06:36 am by piazola
Make a comment  

aku merindukan kamu yang di sana

    

Aku merindukan kamu yang di sana

 

 

Sayang,

Hari ini aku merindukanmu lebih dari biasa

Padahal baru saja kemarin lusa kita berpisah

Entah apa yang mengganggu hati

Tapi rasanya aku ingin sekali bertemu

 

Sayang,

Apakah kamu di sana merasakan hal yang sama

Apakah kamu juga memendam resah ini, gundah ini, gulana ini

Apakah kamu juga menyimpan

Hasrat yang meminta segera dipenuhi ini

 

Sayang,

Kamu yang ada di sana

Lihatlah ke angkasa

Rentangkan tangan

Pejamkan mata

Nikmati belaian bayu yang menggelitik kulitmu

Dengarkan desau suaranya yang lamat-lamat

Resapi puja-puji rindu yang aku titip padanya

 

Sayang,

Mari kita bertemu di udara

Menari menggumuli rindu yang menggebu

Semoga kita abadi dalam rasa

Dan waktu yang tak pernah menunggu

 

Senin, 17 November 2008

 


Posted at 06:34 am by piazola
Comment (1)  

Sehari bersama Ms. L

    

Sehari bersama Ms. L

 

Hari ini saya akan berkencan dengan Ms. L. Yap, tepat di hari sabtu, malam minggu ini. Wah...wah...seperti apa, ya kira-kira kencan saya dengan Ms. L nanti? Jam setengah 10 saya berangkat dari rumah. Saya janji bertemu Ms. L di pasar rebo jam 10 teng. Jam 10.14 saya sampai. Ms. L belum kelihatan batang hidungnya. Saya telpon, tak diangkat. Saya mulai berang. Saya telpon terus sampai akhirnya diangkat.

 

Tak lama Ms. L nongol juga. Kami langsung naik bus yang sedang ngetem. Tak lama kami sampai di JCC. Ya hari ini, memang kami berencana memanjakan mata dan kehausan kami dengan melihat-lihat pameran kompi dan buku di JCC.

 

Di JCC kami disambut jutaan manusia dan barang-barang. Wuih, pusing saya dibuatnya. Walhasil saya tak menikmati acara kencan hari ini. Saya memang tidak tahan berada di tengah keramaian. Ditambah lagi dengan membawa-bawa laptop yang beratnya minta ampun, saya jadi semakin tidak menikmati acara kencan kali ini. Tapi dari jalan-jalan tidak niat itu, saya dapat juga tiga buku: Anna Karenina Leo Toilstoi yang pertama (yang kedua saya sudah punya), Ken Arok dan The Pillar of the Earth.  Di JCC kami bertemu dua pasangan, Ipied dan Ibenk, satu lagi saya sungkan menyebutkannya (entah mereka pasangan atau bukan, tapi sepertinya iya. Wong sangat terlihat dari bahasa tubuh dan tatap mereka. Awas saja kalau tidak mengaku).

 

Dari JCC kencan kami lanjutkan ke Plangi karena perut kami sudah ngambek minta diisi. Kami memilih tempat di Solaria. Saat tengah asik-asiknya makan dan bersenda-gurau tiba-tiba HP saya berdering. Panggilan pekerjaan. Huh, sebal juga. Tapi mau bagaimana lagi, inilah resiko tukang ketik panggilan. Kalau pekerjaan sudah datang, ya harus dikerjakan, tidak perduli waktu dan kondisi, padahal saya sedang bersenang-senang dengan teman-teman kencan saya.

 

Karena panggilan pekerjaan itu, saya dan Ms. L terpaksa memisahkan diri dari dua pasangan itu dan mencari tempat yang nyaman untuk segera menunaikan panggilan menjadi tukang ketik. Sialnya, di tengah perjalanan hujan turun dengan begitu tiba-tiba dan deras. Saya dan MS. L harus berlarian menghindari hujan. Kami langsung menuju halte busway untuk menghemat waktu. Kami pikir lebib baik berteduh dalam bus daripada di tempat antah berantah. Siapa tahu, begitu sampai tempat tujuan hujan sudah reda. Tapi ada kejadian lucu. Ms. L begitu bersemangat menaiki tranjak sampai bleess..terpeleset. Saya iba sekaligus menahan tawa melihat itu. Tapi karena Ms. L teman saya, tawa saya saya redam sebisa mungkin. Ms. L pastilah marah kalau saya tertawa terbahak-bahak. Tapi sungguh memang lucu kejadian itu. Sampai saya menuliskan ini, saya masih tertawa mengingat kejadian itu. Huahahahaha. Ms. L, makanya hati-hati. Jangan terlalu bersemangatlah.

 

Baik saya lanjutkan cerita saya. Tak lama kami sampai di tempat tujuan, Utan Kayu, tempat kos saya. Sesampainya di sana, tanpa babibu dan basa-basi, masih dengan tubuh letih karena menggendong-gendong bayi kami (laptop kami) dan basah kuyup karena kehujanan, kami langsung menyalakan laptop dan mengetik. Namanya juga tukang ketik. Yang harus selalu kami lakukan dan dahulukan adalah mengetik...ngetik...ngetik...sampai jari kami kapalan.

 

Sabtu, 15 November 2008

 


Posted at 06:32 am by piazola
Comment (1)  

jumat kelabu

    

Jika nanti aku kehilangan kamu,

Bisakah aku merasa bahagia seperti saat ini lagi...

 

Jika nanti kamu pergi,

Akankah aku bisa tertawa seperti ini lagi...

 

Jika nanti kamu tak kembali,

Mungkinkah aku menemukan cinta sehangat cintamu...

Menemukan kasih sayang seindah kasihmu...

 

Jika nanti kamu benar-benar tiada,

Aku tak tahu harus bagaimana...

 

Jika nanti saat itu tiba,

Aku benar-benar tak tahu harus bagaimana...


Posted at 06:29 am by piazola
Make a comment  

Nov 15, 2008
HARI MENCARI HELM

HARI MENCARI HELM

 

Bisa dikatakan ini adalah hari sial saya. Bagaimana bukan hari sial kalau dalam sehari saya sampai mencari helm tiga kali. Kehujanan pula.

 

Baiklah, saya ceritakan saja kronologisnya selengkapnya.

 

Pagi hari sekitar pukul 10 pagi, saya keluar rumah dengan niat mulia. Bayangkan, saya ingin mengajar adik-adik saya agar juga mumpuni menulis seperti saya. Halah, saya sudah mulai menyombongkan diri. Tapi memang begitu adanya. Huahahahaha. Tidak, kita kembali serius. Niat saya keluar rumah kali ini adalah untuk mengajar jurnalistik di labskul rawamangun. Maka dengan niat tulus itulah saya berpamitan pada kedua orang tua saya.

 

Di awal perjalanan saya sudah diuji. Rasanya perjalanan saya kali ini terasa lebih lama dari biasanya. Harusnya saya bisa sampai tempat tujuan sekitar jam 11an. Tapi ini, malah hampir jam setengah satu baru sampai. Halah. Kok ngaret banyak sekali. Tapi tak apa, yang penting saya sampai tempat tujuan.

 

Singkat cerita. Saya sampai di labskul dan mulai mengajar bersama lelaki saya. Selesai mengajar kami harus bergegas menuju tempat mengajar selanjutnya, PB Sudirman di bilangan Cijantung. Saat hendak melajukan motor, lelaki saya baru ingat kalau dia tidak bawa helm untuk saya. Halah, ya kok baru ingat sekarang. Kalau bilang dari tadi kan saya bisa antisipasi. Ada tiga jalan penyelesaian yang bisa saya ambil. Pertama saya bawa helm dari rumah (tapi ini akan menjadi pilihan terakhir saya, karena saya malas bawa-bawa laptop ditambah helm. Berat.). Yang kedua, saya bisa membeli helm di jalan. Yang ketiga, saya tidak jadi berangkat ke labskul, biar dia saja yang mengajar. Saya konsentrasi dengan yang di Sudirman.

 

Ah, tapi nasi sudah jadi bubur. Apa mau dikata. Percuma menyesali. Yang harus kami lakukan sekarang adalah mencari jalan keluar masalah ini. Tak guna debat panjang. Just do. Kami pun akhirnya terpaksa keliling kampus untuk mencari pinjaman helm. Hasilnya nihil. Kami lalu memutuskan mencari helm di sepanjang perjalanan sambil berdoa semoga tak ditilang pak polisi yang suka sekali mencari-cari kesalahan para pengendara di jalan raya.

 

Tak lama kami menemukan tukang helm di pramuka. Setelah debat panjang dengan si penjual helm, akhirnya kami mendapatkan helm dengan harga yang kami sepakati. Helm sudah di tangan, di kepala ding. Hati kami pun menjadi tenang. Perjalananpun kami lanjutkan. Di tengah perjalanan, saat mencapai daerah condet, tiba-tiba hujan lebat mengguyur. Orang-orang kalang-kabut. Pengendara motor berebutan menepi dan mencari tempat berteduh. Hanya mobil dan metromini yang dengan santai terus melaju. Hah betapa beruntungnya mereka. Sementara kami basah kuyup. Tidak mungkin rasanya kami mengadu kekuatan dengan sang hujan. Kami pun memutuskan menepi. Lama hujan tak kunjung reda. Dingin. Perut kami lapar. Kami memang belum sempat makan siang.

 

Hujan masih rintik-rintik. Rasanya akan lama berhenti. Kami mengejar waktu. Kami takut adik-adik kami jengah menunggu kami dan memutuskan pulang. Akhirnya kami nekat menerobos hujan. Kami berjalan sehati-hati mungkin agar tak terkena cipratan air hujan yang menggenang. Tapi sial, pengendara motor dan mobil yang tak punya toleransi, ngebut seenak udelnya dan menciprati kami. Berkali-kali, kami ketiban sial itu. Walhasil kami basah kuyup. Catat, bukan karena hujan tapi karena cipratan air kotor ulah pada pengendara sialan itu. Tapi demi mengingat wajah adik-adik kami yang resah menunggu kami, kami memutuskan meneruskan perjuangan kami dan mencoba berbesar hati. Meski sebenarnya merutuk sejadi-jadinya.

 

Akhirnya kami sampai di PB Sudirman. Dan benar saja, adik-adik kami sudah banyak yang pulang. Hanya segelintir yang bertahan. Itu pun karena jemputannya belum datang. Hah. Lengkap sudah kesialan kami hari ini. Sudah basah kuyup, kotor, kelaparan, adik-adik yang mau diajar sudah tak ada pula. Huh. Saya hanya bisa mengurut dada.

 

Untuk menghibur diri, kami memutuskan menonton monolog di TIM. Perjalanan kali ini bisa dikatakan lancar, sampai akhirnya helm saya terbang karena lelaki saya ingin memacu adrenalinnya dengan menambah kecepatan laju motor. Kami pun terpaksa mencari helm lagi, demi menghindari penilangan. Kalau ditilang bisa berabe, pasalnya pajak motor mati tiga tahun. Sesampai di TIM, tak jua kami mendapatkan helm. Sempat terpikir untuk mencuri helm dar motor yang terparkir. Tapi kami tak punya cukup keberanian untuk melakukan itu.

 

Singkat kata, kami menonton monolog. Tapi tidak bisa menikmatinya karena kami masih memikirkan helm, helm, helm. Tapi pertunjukan monolog kali itu sungguh menghibur, terutama penampilan putu wijaya. Salut buat bapak yang satu itu, yang benar-benar mengabdikan diri untuk dunia teater, seni dan budaya bangsa. Malam itu, Putu Wijaya tampil sangat memukau dan total. Tidak menyesal saya datang ke sini.

 

Selesai pentunjukan monolog, kami pun kembali mencari helm. Kami bari berhasil menemukan helm di jatinegara. Sejak saat itu helm itu saya pegang erat-erat. Saya tidak lagi memeluk lelaki saya, tapi helm saya. Saya tidak mau kehilangan helm lagi. Sudah cukup hari ini saya mencari helm. Helm yang kali ini saya temukan, tidak akan saya lepaskan lagi.

 

 

 

 

 

 

  


Posted at 08:43 pm by piazola
Make a comment  

Jul 11, 2008
bingung

ada seorang teman yang bingung

kata teman itu, menurut sejarah evolusi, dahulunya manusia berevolusi dari bentuk yang paling sederhana, dari makhluk bersel satu lalu berevolusi menjadi ikan, lalu berevolusi lagi menjadi kodok, kemudian berevolusi lagi menjadi burung dan seterusnya hingga pada puncak evolusi jadilah manusia.

tapi kemudian ia bertanya-tanya, apakah benar manusia adalah puncak dari evolusi atau akan ada lagikah bentuk yang merupakan jelmaan evolusi manusia?

kata teman itu lagi, evolusi makhluk hidup terjadi karena penyesuaian terhadap kondisi lingkungan. tapi yang terlihat sekarang, manusia yang memaksa lingkungan beradaptasi atau menyesuaikan diri dengan manusia. lagi-lagi teman itu kebingungan. lantas sebenernya apakah manusia diciptakan untuk alam atau sebaliknya, alam yang diciptakan untuk manusia.

hah...bingung...


Posted at 06:30 am by piazola
Make a comment  

Dec 17, 2007
..........


saat mentari menghilang
saat senja berlari
dan saat semua tak lagi ada
tolong bangunkan aku
 

Posted at 12:47 am by piazola
Make a comment  

Next Page