Sehari bersama Ms. L
Hari ini saya akan
berkencan dengan Ms. L. Yap, tepat di hari sabtu, malam minggu ini.
Wah...wah...seperti apa, ya kira-kira kencan saya dengan Ms. L nanti? Jam
setengah 10 saya berangkat dari rumah. Saya janji bertemu Ms. L di pasar rebo
jam 10 teng. Jam 10.14 saya sampai. Ms. L belum kelihatan batang hidungnya.
Saya telpon, tak diangkat. Saya mulai berang. Saya telpon terus sampai akhirnya
diangkat.
Tak lama Ms. L nongol juga.
Kami langsung naik bus yang sedang ngetem. Tak lama kami sampai di JCC. Ya hari
ini, memang kami berencana memanjakan mata dan kehausan kami dengan
melihat-lihat pameran kompi dan buku di JCC.
Di JCC kami disambut jutaan
manusia dan barang-barang. Wuih, pusing saya dibuatnya. Walhasil saya tak
menikmati acara kencan hari ini. Saya memang tidak tahan berada di tengah
keramaian. Ditambah lagi dengan membawa-bawa laptop yang beratnya minta ampun,
saya jadi semakin tidak menikmati acara kencan kali ini. Tapi dari jalan-jalan
tidak niat itu, saya dapat juga tiga buku: Anna Karenina Leo Toilstoi yang
pertama (yang kedua saya sudah punya), Ken Arok dan The Pillar of the
Earth. Di JCC kami bertemu dua pasangan,
Ipied dan Ibenk, satu lagi saya sungkan menyebutkannya (entah mereka pasangan
atau bukan, tapi sepertinya iya. Wong sangat terlihat dari bahasa tubuh dan
tatap mereka. Awas saja kalau tidak mengaku).
Dari JCC kencan kami
lanjutkan ke Plangi karena perut kami sudah ngambek minta diisi. Kami memilih
tempat di Solaria. Saat tengah asik-asiknya makan dan bersenda-gurau tiba-tiba
HP saya berdering. Panggilan pekerjaan. Huh, sebal juga. Tapi mau bagaimana
lagi, inilah resiko tukang ketik panggilan. Kalau pekerjaan sudah datang, ya
harus dikerjakan, tidak perduli waktu dan kondisi, padahal saya sedang
bersenang-senang dengan teman-teman kencan saya.
Karena panggilan pekerjaan
itu, saya dan Ms. L terpaksa memisahkan diri dari dua pasangan itu dan mencari
tempat yang nyaman untuk segera menunaikan panggilan menjadi tukang ketik.
Sialnya, di tengah perjalanan hujan turun dengan begitu tiba-tiba dan deras.
Saya dan MS. L harus berlarian menghindari hujan. Kami langsung menuju halte
busway untuk menghemat waktu. Kami pikir lebib baik berteduh dalam bus daripada
di tempat antah berantah. Siapa tahu, begitu sampai tempat tujuan hujan sudah
reda. Tapi ada kejadian lucu. Ms. L begitu bersemangat menaiki tranjak sampai
bleess..terpeleset. Saya iba sekaligus menahan tawa melihat itu. Tapi karena
Ms. L teman saya, tawa saya saya redam sebisa mungkin. Ms. L pastilah marah
kalau saya tertawa terbahak-bahak. Tapi sungguh memang lucu kejadian itu.
Sampai saya menuliskan ini, saya masih tertawa mengingat kejadian itu.
Huahahahaha. Ms. L, makanya hati-hati. Jangan terlalu bersemangatlah.
Baik saya lanjutkan cerita
saya. Tak lama kami sampai di tempat tujuan, Utan Kayu, tempat kos saya. Sesampainya
di sana, tanpa babibu dan basa-basi, masih dengan tubuh letih karena
menggendong-gendong bayi kami (laptop kami) dan basah kuyup karena kehujanan, kami
langsung menyalakan laptop dan mengetik. Namanya juga tukang ketik. Yang harus
selalu kami lakukan dan dahulukan adalah mengetik...ngetik...ngetik...sampai
jari kami kapalan.
Sabtu, 15 November 2008