KEN AROK
Saya baru
saja menamatkan buku Ken Arok karya Gamal Komandoko. Buku ini bercerita tentang
kedigdayaan Ken Arok sebagai anak biasa, yang dibuang ibunya karena sakit hatinya
pada kekasihnya yang tidak mengakui anak itu, menjadi penguasa Tumapel, wilayah
jajahan Kediri yang akhirnya menumbangkan kekuasaan Kediri dan menjadi
satu-satunya penguasa di Tumapel dan Kediri.
Elok buku
ini memaparkan kisah Arok, anak titisan dewa yang menurut buku ini, dari
mulutnya keluar cahaya yang mampu membius banyak orang hingga menghantur sembah
padanya. Saya secara pribadi berterima kasih kepada pengarang yang telah
memberi saya pengetahuan tentang sejarah pertumpahan darah di Tumapel. Pengarang
cukup lihai memadu kata-kata yang dapat dicerna dan membuai pembaca. Pilihan
katanya sungguh ringkas dan tepat makna.
Namun ada
yang menggelitik hati saya ketika membaca buku ini. Entah mengapa, saya merasa
buku ini seperti sinetron saja. Deskripsi, dialog dan pemaparan cerita
sangatlah mirip dengan sinetron. Saya jadi bertanya-tanya, apa si penulis juga
penulis skenario sinetron atau korban sinetron atau apa? Mungkin ini yang
dikatakan teman saya, Ms. L dan Pidi sebagai kutukan penulis skenario. Huahahaha.
Saya jadi geli sendiri. Tapi sungguh, membaca buku ini dan membayangkan isinya
seolah tengah menyaksikan sebuah sinetron. Apalagi buku ini terlalu mudah
ditebak isinya, hingga hanya dengan membaca sekilas-sekilas, kita sudah dapat
mengerti ceritanya. Saya sendiri bahkan bacanya melompat-lompat dan tetap
mengerti perkembangan cerita. Sungguh mirip sinetron bukan. Tak perlu menonton
keseluruhan, tetap mengerti cerita.
Tapi
terlepas dari itu, buku ini cukup layak menjadi bahan bacaan. Setidaknya sedikit
banyak cakrawala kita tentang babab tanah jawi bertambah dengan membaca buku
ini.
Jumat, 21
November 2008
Posted at 06:36 am by piazola