Entry: HARI MENCARI HELM Nov 15, 2008



HARI MENCARI HELM

 

Bisa dikatakan ini adalah hari sial saya. Bagaimana bukan hari sial kalau dalam sehari saya sampai mencari helm tiga kali. Kehujanan pula.

 

Baiklah, saya ceritakan saja kronologisnya selengkapnya.

 

Pagi hari sekitar pukul 10 pagi, saya keluar rumah dengan niat mulia. Bayangkan, saya ingin mengajar adik-adik saya agar juga mumpuni menulis seperti saya. Halah, saya sudah mulai menyombongkan diri. Tapi memang begitu adanya. Huahahahaha. Tidak, kita kembali serius. Niat saya keluar rumah kali ini adalah untuk mengajar jurnalistik di labskul rawamangun. Maka dengan niat tulus itulah saya berpamitan pada kedua orang tua saya.

 

Di awal perjalanan saya sudah diuji. Rasanya perjalanan saya kali ini terasa lebih lama dari biasanya. Harusnya saya bisa sampai tempat tujuan sekitar jam 11an. Tapi ini, malah hampir jam setengah satu baru sampai. Halah. Kok ngaret banyak sekali. Tapi tak apa, yang penting saya sampai tempat tujuan.

 

Singkat cerita. Saya sampai di labskul dan mulai mengajar bersama lelaki saya. Selesai mengajar kami harus bergegas menuju tempat mengajar selanjutnya, PB Sudirman di bilangan Cijantung. Saat hendak melajukan motor, lelaki saya baru ingat kalau dia tidak bawa helm untuk saya. Halah, ya kok baru ingat sekarang. Kalau bilang dari tadi kan saya bisa antisipasi. Ada tiga jalan penyelesaian yang bisa saya ambil. Pertama saya bawa helm dari rumah (tapi ini akan menjadi pilihan terakhir saya, karena saya malas bawa-bawa laptop ditambah helm. Berat.). Yang kedua, saya bisa membeli helm di jalan. Yang ketiga, saya tidak jadi berangkat ke labskul, biar dia saja yang mengajar. Saya konsentrasi dengan yang di Sudirman.

 

Ah, tapi nasi sudah jadi bubur. Apa mau dikata. Percuma menyesali. Yang harus kami lakukan sekarang adalah mencari jalan keluar masalah ini. Tak guna debat panjang. Just do. Kami pun akhirnya terpaksa keliling kampus untuk mencari pinjaman helm. Hasilnya nihil. Kami lalu memutuskan mencari helm di sepanjang perjalanan sambil berdoa semoga tak ditilang pak polisi yang suka sekali mencari-cari kesalahan para pengendara di jalan raya.

 

Tak lama kami menemukan tukang helm di pramuka. Setelah debat panjang dengan si penjual helm, akhirnya kami mendapatkan helm dengan harga yang kami sepakati. Helm sudah di tangan, di kepala ding. Hati kami pun menjadi tenang. Perjalananpun kami lanjutkan. Di tengah perjalanan, saat mencapai daerah condet, tiba-tiba hujan lebat mengguyur. Orang-orang kalang-kabut. Pengendara motor berebutan menepi dan mencari tempat berteduh. Hanya mobil dan metromini yang dengan santai terus melaju. Hah betapa beruntungnya mereka. Sementara kami basah kuyup. Tidak mungkin rasanya kami mengadu kekuatan dengan sang hujan. Kami pun memutuskan menepi. Lama hujan tak kunjung reda. Dingin. Perut kami lapar. Kami memang belum sempat makan siang.

 

Hujan masih rintik-rintik. Rasanya akan lama berhenti. Kami mengejar waktu. Kami takut adik-adik kami jengah menunggu kami dan memutuskan pulang. Akhirnya kami nekat menerobos hujan. Kami berjalan sehati-hati mungkin agar tak terkena cipratan air hujan yang menggenang. Tapi sial, pengendara motor dan mobil yang tak punya toleransi, ngebut seenak udelnya dan menciprati kami. Berkali-kali, kami ketiban sial itu. Walhasil kami basah kuyup. Catat, bukan karena hujan tapi karena cipratan air kotor ulah pada pengendara sialan itu. Tapi demi mengingat wajah adik-adik kami yang resah menunggu kami, kami memutuskan meneruskan perjuangan kami dan mencoba berbesar hati. Meski sebenarnya merutuk sejadi-jadinya.

 

Akhirnya kami sampai di PB Sudirman. Dan benar saja, adik-adik kami sudah banyak yang pulang. Hanya segelintir yang bertahan. Itu pun karena jemputannya belum datang. Hah. Lengkap sudah kesialan kami hari ini. Sudah basah kuyup, kotor, kelaparan, adik-adik yang mau diajar sudah tak ada pula. Huh. Saya hanya bisa mengurut dada.

 

Untuk menghibur diri, kami memutuskan menonton monolog di TIM. Perjalanan kali ini bisa dikatakan lancar, sampai akhirnya helm saya terbang karena lelaki saya ingin memacu adrenalinnya dengan menambah kecepatan laju motor. Kami pun terpaksa mencari helm lagi, demi menghindari penilangan. Kalau ditilang bisa berabe, pasalnya pajak motor mati tiga tahun. Sesampai di TIM, tak jua kami mendapatkan helm. Sempat terpikir untuk mencuri helm dar motor yang terparkir. Tapi kami tak punya cukup keberanian untuk melakukan itu.

 

Singkat kata, kami menonton monolog. Tapi tidak bisa menikmatinya karena kami masih memikirkan helm, helm, helm. Tapi pertunjukan monolog kali itu sungguh menghibur, terutama penampilan putu wijaya. Salut buat bapak yang satu itu, yang benar-benar mengabdikan diri untuk dunia teater, seni dan budaya bangsa. Malam itu, Putu Wijaya tampil sangat memukau dan total. Tidak menyesal saya datang ke sini.

 

Selesai pentunjukan monolog, kami pun kembali mencari helm. Kami bari berhasil menemukan helm di jatinegara. Sejak saat itu helm itu saya pegang erat-erat. Saya tidak lagi memeluk lelaki saya, tapi helm saya. Saya tidak mau kehilangan helm lagi. Sudah cukup hari ini saya mencari helm. Helm yang kali ini saya temukan, tidak akan saya lepaskan lagi.

 

 

 

 

 

 

  

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments