|
HARI MENCARI HELM Bisa dikatakan ini adalah
hari sial saya. Bagaimana bukan hari sial kalau dalam sehari saya sampai
mencari helm tiga kali. Kehujanan pula. Baiklah, saya ceritakan saja
kronologisnya selengkapnya. Pagi hari sekitar pukul 10
pagi, saya keluar rumah dengan niat mulia. Bayangkan, saya ingin mengajar
adik-adik saya agar juga mumpuni menulis seperti saya. Halah, saya sudah mulai
menyombongkan diri. Tapi memang begitu adanya. Huahahahaha. Tidak, kita kembali
serius. Niat saya keluar rumah kali ini adalah untuk mengajar jurnalistik di
labskul rawamangun. Maka dengan niat tulus itulah saya berpamitan pada kedua
orang tua saya. Di awal perjalanan saya sudah
diuji. Rasanya perjalanan saya kali ini terasa lebih lama dari biasanya.
Harusnya saya bisa sampai tempat tujuan sekitar jam 11an. Tapi ini, malah
hampir jam setengah satu baru sampai. Halah. Kok ngaret banyak sekali. Tapi tak
apa, yang penting saya sampai tempat tujuan. Singkat cerita. Saya sampai
di labskul dan mulai mengajar bersama lelaki saya. Selesai mengajar kami harus
bergegas menuju tempat mengajar selanjutnya, PB Sudirman di bilangan Cijantung.
Saat hendak melajukan motor, lelaki saya baru ingat kalau dia tidak bawa helm
untuk saya. Halah, ya kok baru ingat sekarang. Kalau bilang dari tadi kan saya
bisa antisipasi. Ada tiga jalan penyelesaian yang bisa saya ambil. Pertama saya
bawa helm dari rumah (tapi ini akan menjadi pilihan terakhir saya, karena saya
malas bawa-bawa laptop ditambah helm. Berat.). Yang kedua, saya bisa membeli helm
di jalan. Yang ketiga, saya tidak jadi berangkat ke labskul, biar dia saja yang
mengajar. Saya konsentrasi dengan yang di Sudirman. Ah, tapi nasi sudah jadi
bubur. Apa mau dikata. Percuma menyesali. Yang harus kami lakukan sekarang
adalah mencari jalan keluar masalah ini. Tak guna debat panjang. Just do. Kami
pun akhirnya terpaksa keliling kampus untuk mencari pinjaman helm. Hasilnya
nihil. Kami lalu memutuskan mencari helm di sepanjang perjalanan sambil berdoa
semoga tak ditilang pak polisi yang suka sekali mencari-cari kesalahan para
pengendara di jalan raya. Tak lama kami menemukan
tukang helm di pramuka. Setelah debat panjang dengan si penjual helm, akhirnya
kami mendapatkan helm dengan harga yang kami sepakati. Helm sudah di tangan, di
kepala ding. Hati kami pun menjadi tenang. Perjalananpun kami lanjutkan. Di
tengah perjalanan, saat mencapai daerah condet, tiba-tiba hujan lebat
mengguyur. Orang-orang kalang-kabut. Pengendara motor berebutan menepi dan
mencari tempat berteduh. Hanya mobil dan metromini yang dengan santai terus
melaju. Hah betapa beruntungnya mereka. Sementara kami basah kuyup. Tidak
mungkin rasanya kami mengadu kekuatan dengan sang hujan. Kami pun memutuskan
menepi. Lama hujan tak kunjung reda. Dingin. Perut kami lapar. Kami memang belum
sempat makan siang. Hujan masih rintik-rintik.
Rasanya akan lama berhenti. Kami mengejar waktu. Kami takut adik-adik kami
jengah menunggu kami dan memutuskan pulang. Akhirnya kami nekat menerobos
hujan. Kami berjalan sehati-hati mungkin agar tak terkena cipratan air hujan
yang menggenang. Tapi sial, pengendara motor dan mobil yang tak punya
toleransi, ngebut seenak udelnya dan menciprati kami. Berkali-kali, kami
ketiban sial itu. Walhasil kami basah kuyup. Catat, bukan karena hujan tapi
karena cipratan air kotor ulah pada pengendara sialan itu. Tapi demi mengingat
wajah adik-adik kami yang resah menunggu kami, kami memutuskan meneruskan
perjuangan kami dan mencoba berbesar hati. Meski sebenarnya merutuk
sejadi-jadinya. Akhirnya kami sampai di PB
Sudirman. Dan benar saja, adik-adik kami sudah banyak yang pulang. Hanya
segelintir yang bertahan. Itu pun karena jemputannya belum datang. Hah. Lengkap
sudah kesialan kami hari ini. Sudah basah kuyup, kotor, kelaparan, adik-adik
yang mau diajar sudah tak ada pula. Huh. Saya hanya bisa mengurut dada. Untuk menghibur diri, kami
memutuskan menonton monolog di TIM. Perjalanan kali ini bisa dikatakan lancar,
sampai akhirnya helm saya terbang karena lelaki saya ingin memacu adrenalinnya
dengan menambah kecepatan laju motor. Kami pun terpaksa mencari helm lagi, demi
menghindari penilangan. Kalau ditilang bisa berabe, pasalnya pajak motor mati
tiga tahun. Sesampai di TIM, tak jua kami mendapatkan helm. Sempat terpikir
untuk mencuri helm dar motor yang terparkir. Tapi kami tak punya cukup
keberanian untuk melakukan itu. Singkat kata, kami menonton
monolog. Tapi tidak bisa menikmatinya karena kami masih memikirkan helm, helm,
helm. Tapi pertunjukan monolog kali itu sungguh menghibur, terutama penampilan
putu wijaya. Salut buat bapak yang satu itu, yang benar-benar mengabdikan diri
untuk dunia teater, seni dan budaya bangsa. Malam itu, Putu Wijaya tampil
sangat memukau dan total. Tidak menyesal saya datang ke sini. Selesai pentunjukan monolog,
kami pun kembali mencari helm. Kami bari berhasil menemukan helm di jatinegara.
Sejak saat itu helm itu saya pegang erat-erat. Saya tidak lagi memeluk lelaki
saya, tapi helm saya. Saya tidak mau kehilangan helm lagi. Sudah cukup hari ini
saya mencari helm. Helm yang kali ini saya temukan, tidak akan saya lepaskan
lagi. |
| Leave a Comment: |